Kondisi Terumbu Karang di Pulau Panjang, Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat
Oleh: Mega Srihandayani (08171039)
Menurut
UU No 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
pasal 1 bahwa: “Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat
dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut” pada pasal ini pula
menjelaskan bahwa salah satu sumber daya pesisir ialah terumbu karang yang dimana
harus dijaga kelestariannya. Terumbu karang merupakan ekosistem bahari yang
paling banyak menarik perhatian karena nilai estetikanya yang begitu tinggi,
begitupun warna, bentuk, serta desainnya yang kaya akan keanekaragaman jenis
biota yang hidup di dalamnya (Nybakken, 1992). Terumbu karang berperan sangat
penting bagi makhluk hidup biota laut, salah satunya sebagai tempat ikan
berkembang biak karena terumbu karang menghasilkan nutrisi yang cukup banyak. Menurut
Brotowidjojo (1994), faktor yang mempengaruhi perkembangan terumbu karang ialah
suhu, salinitas, intensitas cahaya, sedimen dan gelombang.
Namun, seiring berjalannya waktu
keberadaan akan terumbu karang terancam punah. Penelitian terbaru LIPI (2018)
di Indonesia, dari total 1.067 site terumbu karang, sebanyak 386 site kategori
jelek, 366 site katergori cukup, 245 site dengan kategori baik dan 70 site
dengan kategori sangat baik. Menurut Tim Peneliti P2O LIPI, secara umum kondisi
terumbu karang yang buruk berada di wilayah selatan dan barat Indonesia. Hal
ini diyakini akibat lingkungan yang ekstrim dan juga akibat bleaching pada tahun 2016 silam.
Pulau Panjang, Kabupaten Pasaman
Barat yang memiliki luas sekitar 220 Ha ternyata memiliki potensi pada kawasan
pesisirnya yang masih belum dikelola secara maksimal. Hasil survey yang
dilakukan oleh DKP Provinsi Sumatera Barat (2011) didapatkan hasil pengukuran
terumbu karang pada beberapa stasiun transek di Perairan Pulau Panjang pada
kondisi tutupan terumbung karang dengan kategori rusak yang rata-ratanya 16,8%.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan Oktarina, dkk (2013), dengan metode Line Intercept Transect (LIT) yang dilakukan di 4 stasiun sesuai
dengan arah mata angina (timur, selatan, barat dan utara) serta dengan 2
kedalaman yaitu 3 m dan 7 m. Berikut data hasil pengukuran parameter kualitas
perairan di Pulau Panjang.
Tabel 1 Hasil Pengukuran Parameter Kualitas Perairan di
Pulau Panjang
|
Parameter
|
Satuan
|
Stasiun/Titik
Penelitian
|
Baku
Mutu
|
|||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||||||
|
1
|
2
|
1
|
2
|
1
|
2
|
1
|
2
|
|||
|
Suhu
|
ºC
|
29,3
|
29,1
|
28,7
|
28,2
|
30,6
|
30,1
|
29,8
|
29,4
|
28-30
|
|
Salinitas
|
‰
|
30
|
30
|
30
|
30
|
30
|
30
|
30
|
30
|
33-34
|
|
pH
|
-
|
7,27
|
7,30
|
7,46
|
7,48
|
7,37
|
7,40
|
7,39
|
7,41
|
7-8,5
|
|
DO
|
mg/L
|
7,21
|
7,23
|
6,79
|
6,82
|
7,04
|
7,09
|
6,8
|
6,9
|
>5
|
|
Fosfat
|
mg/L
|
4,63
|
4,68
|
3,27
|
3,30
|
4,12
|
4,17
|
3,21
|
3,29
|
0,015
|
|
Nitrat
|
mg/L
|
0,23
|
0,27
|
0,09
|
0,15
|
0,13
|
0,18
|
0,12
|
0,20
|
0,008
|
|
Kecerahan
|
m
|
1,5
|
1
|
1,5
|
1
|
3
|
2,5
|
1
|
1
|
>5
|
Sumber: Oktarina, dkk (2013)
Menurut
Supriharyono (2007), kehidupan terumbu karang mampu bertahan hidup dengan suhu
kisaran 16-36ºC. Dan pada penelitian ini, hasil pengukuran suhu pada lokasi
penelitian berkisar antara 28,7ºC-30,6ºC dimana dalam suhu tersebut terumbu
karang masih tergolong cukup untuk melangsungkan hidupnya. Menurut Hubbard
& Pocock (1972), sedimen yang banyak dan dapat menutup mulut karang
mengakibatkan turunnya laju pertumbuhan terumbu karang, optimalnya tingkat
kecerahan yang diterima terumbu karang ialah 50-70 m, namun umumnya berkembang
di 25 m atau kurang. Pada penelitian ini, di Pulau Panjang ditemukan penumpukan
sedimentasi yang tinggi yang berasal dari 2 muara sungai, yaitu Sungai Air
Bangis dan Sungai Batang Tonak. Sehingga tingkat kecerahan yang diterima
terumbu karang hanya berkisar 1-3 m dan menyebabkan terumbu karang tidak
berkembang secara optimal. Menurut Dahuri (2003), umumnya terumbu karang tumbuh
dengan baik di wilayah dekat pesisir pada salinitas 30-35‰. Dan pada penelitian
ini, hasil rata-rata pengukuran salinitas ialah 30‰ dimana dalam hal ini
terumbu karang dapat tumbuh dengan baik. Hasil pengukuran derajat keasaman (pH)
pada lokasi ini berkisar antara 7,27-7,48 yang optimalnya adalah 7-8,5. Menurut
Mismail (2010), bukti bahwa nilai pH terlalu tinggi atau rendah ialah banyaknya
koral yang mati. Menurut Salmin (2005), oksigen sangat berpengaruh dalam proses
oksidasi dan reduksi bahan organic maupun nonorganik, optimalnya oksigen yang
dibutuhkan terumbu karang ialah sekitar > 5 mg/L. Dalam penelitian ini,
oksigen yang ada pada lokasi penelitian sudah lebih dari cukup untuk
pertumbuhan terumbu karang. Pada umumnya, kandungan fosfat pada suatu perairan
berkisar 0,015 mg/L dan dan kandungan nitratnya berkisar 0,008 mg/L.
Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan Oktarina, dkk (2013) tutupan terumbu karang di
Pulau Panjang ini bertipe terumbu karang tepi (fringing reef). Tipe terumbu karang ini memiliki lebar sekitar
200-400 m dari pantai kea rah laut. Sedangkan terumbu karang yang masih hidup
di lokasi ini, didominasi oleh karang massive
(berbentuk bongkahan), karang bercabang (coral branching) Acropora dan Non Acropora, serta karang lembaran (Foliose). Berikut hasil presentase tutupan karang hidup di Pulau Panjang.
Tabel 2 Hasil Presentase Tutupan Karang
Hidup di Pulau Panjang
|
|
Stasiun
|
Tutupan Karang Hidup
(%)
|
Kategori
|
|
Utara
|
3 m
|
53,51
|
Baik
|
|
7 m
|
68,14
|
Baik
|
|
|
Timur
|
3 m
|
93,29
|
Sangat Baik
|
|
7 m
|
15,93
|
Rusak
|
|
|
Selatan
|
3 m
|
75,17
|
Sangat Baik
|
|
7 m
|
20,53
|
Rusak
|
|
|
Barat
|
3 m
|
41,50
|
Sedang
|
|
7 m
|
32,79
|
Sedang
|
|
|
Rata-Rata
|
50,10
|
Baik
|
|
Sumber: Oktarina dkk, 2013
Pada
kedalaman 5 m tidak banyak ditemukan populasi terumbu karang karena rata-rata
kondisi berpasir dan diselingi dengan karang mati. Sehingga dapat dikatakan,
kondisi terumbu karang di perairan Pulau Panjang dalam kondisi baik dengan
rata-rata tutupan karan sebesar 50,10%. Pulau Panjang yang memiliki perairan
yang jernih serta ditumbuhi terumbu karang yang unik. Sehingga dalam hal ini,
Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat menjadikan Pulau Panjang ini sebagai
destinasi wisata dan mengalokasikan anggaran sekitar Rp 500 juta sebagai upaya
pembangunan infrastruktur untuk memajukan destinasi wisata tersebut.
Menurut
Oktarina dkk (2013), untuk menjaga agar ekosistem terumbu karang tetap terjaga
pada Pulau Panjang ini ialah dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang
berbasis masyarakat, membentuk kelompok masyarakat pengawas, menetapkan kawasan
perairan Pulau Panjang menjadi kawasan konservasi laut daerah, pengelolaan
berbasis Ko-manajemen, adanya upaya peningkatan ekonomi dalam rangka menunjang
peningkatan pengetahuan akan pentingnya pelestariandan pengelolaan ekosistem
terumbu karang, dan menertibkan Peraturan Daerah yang mengatur tentang sanksi
dan hukuman terhadap kegiatan yang merusak ekosistem terumbu karang.
DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjojo.
1994 . Zoologi Dasar. Jakarta :
Erlangga
Dahuri,
R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut.
Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama
Hubbard,
J.A.E.B & Pocock, Y.P. 1972. Sediment
rejection by recent sclerectian corals: A
key to palaeo–environmental
reconstruction. Geol.
Rdsc 61: 598–626
Nybakken,
J. W. 1992. Biologi Laut: Suatu
Pendekatan Ekologis. terjemahan dari Marine
Biology: An Ecological Approach, oleh
Eidman, M., Koesoebiono, D.G. Bengen, M.
Hutomo, & S. Jakarta: PT.Gramedia
Oktarina,
Angreini, Eni Kamal, Suparno. 2013 Kajian
Kondisi Terumbu Karang dan Startegi
Pengelolaannya di Pulau Panjang, Air
Bangis, Kabupaten Pasaman Barat.
Sumatra:
Jurnal Natur Indonesia
Salmin.
2005. Oksigen terlarut dan kebutuhan
oksigen biologi (BOD) sebagai salah satu
indikator untuk menentukan kualitas perairan. Oseana 30(3): 21–26
Supriharyono.
2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya
Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut
Tropis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Website
Andries,
Rivo Septi. “Pulau Panjang di Ujung Sumbar, Sorga Kecil yang Tersembunyi”
diakses pada tanggal 27 Maret 2019
pukul 16:40 WITA.
Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia, “LIPI Rilis Status Terumbu Karang Terkini” diakses
terumbu-karang-terkini/21409
R, Iwan.”Pulau
Panjang Akan Menjadi Wisata Andalan Pasbar” diakses pada tanggal 27 Maret 2019
pukul 16:50 WITA. http://pariwisata.klikpositif.com/baca/11032/pulau-panjang-akan-jadi-wisata-andalan-pasbar
Komentar
Posting Komentar