CRITICAL REVIEW JURNAL TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE PANTAI DI DESA MALAKOSA KECAMATAN BALINGGI KABUPATEN PARIGI MOUTONG


CRITICAL REVIEW JURNAL
TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE PANTAI DI DESA MALAKOSA KECAMATAN BALINGGI
KABUPATEN PARIGI MOUTONG

Mata Kuliah: Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir

Dosen Pengampu:
Anggit Suko Rahajeng, S.T., M.T.
Muhammad Rizky Pratama, S.T., M.T.
Ariyaningsih, S.T., M.Sc.






Oleh:
Mega Srihandayani                           08171039



PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
BALIKPAPAN
2019





ESSAI CRITICAL REVIEW JURNAL
PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR
Judul
Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Pantai di Desa Malakosa Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong
Jurnal
Warta Rimba
Volume dan Halaman
Vol.2, Hal. 54-61
Tahun
2014
Penulis
Fuad Anugra, Husain Umar, Bau Toknok
Reviewer
Mega Srihandayani (08171039)
Tanggal
11 Oktober 2019

Hutan Mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki banyak manfaat bagi makhluk hidup. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Menurut Heriyanto dan Subiandono (2012), ekosistem berperan penting dalam pengembangan perikanan pantai karena merupakan tempat berkembang biak bagi beberapa jenis ikan, kerang, kepiting dan udang. Dengan adanya hutan mengrove juga berperan sebagai penahan ombak serta penahan instrusi (peresapan) dan abrasi laut.
            Berdasarkan data Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Indonesia memiliki 2,9 juta hektar yang notabene hamper ¼ dari seluruh hutan mangrove yang ada didunia. Hutan Mangrove tersebar diseluruh provinsi di Indonesia, khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah, luas area mangrove ialah 22.377 ha (48,58%) dan 23.685 ha (51,42%) yang telah mengalami kerusakan. Kerusakan mangrove pada daerah ini diperkiraan disebabkan oleh abrasi pantai dan penebangan pohon bakau. Menurut Bengen (2000), permasalahan utama pada habitat mangrove bersumber dari berbagai tekanan yang menyebabkan luas hutan mangrove samkin berkurang antara lain oleh kegiatan tambak, atau berbagai kegiatan pengusahaan hutan yang tidak bertanggungjawab. Perkembangan wilayah pesisir semakin lama mengalami kerusakan akibat aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan sumberdayanya maupun akibat bencana alam. Demikian halnya juga terjadi pada Malakosa.
Hutan mangrove yang ada di Desa Malakosa mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia, sehingga dilakukan penelitian agar mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi dan mencari solusi dalam upaya untuk menimalisasi kerusakan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan metode jalur berpetak “Nested Sampling” yang artinya kombinasi antara jalur dan garis berpetak. Jenis data yang digunakan ialah data primer berupa observasi yang dilakukan dilapangan diantaranya pengamatan lingkungan air (fisika-kimia) dan vegetaso. Sementara data sekunder diperoleh dari instansi/dinas terkait dan literature pendukung.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, pada jalur 1 terdapat 2 jenis mangrove yaitu Rhizophora sp dan Bruguiera sp. Pada jalur 2 terdapat jenis mangrove seperti Ceriops sp, Bruguiera sp, Avicennia sp dan Sonneratia sp. Dan pada jalur 3 terdapat jenis mangrove berupa bruguiera sp dan Rhizophora sp. Berikut data nilai kerapatan dari setiap jalurnya.
Tabel 1.1 Nilai Kerapatan
Lokasi
Kerapatan
Standar
Pohon
Pancang
Semai
Jalur 1
6700
41600
65000
Rusak ringan = 1500
Jalur 2
1300
8400
12500
Rusak sedang = 1000 - <1500
Jalur 3
100
11600
30000
Rusak berat = <1000
Sumber: Anugra dkk, 2014
Menurut tabel diatas, ketiga jalur tersebut tergolong rusak. Penggolongan kriteria ini sesuai dengan standar nilai kerapatan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove. Dengan nilai kerapatan pohon mangrove antara 100-6700 maka akan mengakibatkan kehidupan fauna yang ada terancam punah, selain itu, apabila terjadi pasang besar dari perairan Teluk Tomini maka permukiman masyarakat terancam banjir.
Kondisi mangrove pada daerah ini menunjukkan adanya pengurangan wilayah mangrove yang semakin meningkat. Hal ini dikarenakan adanya tambak milik masyarakat yang daerahnya semakin meluas. Menurut masyarakat, hutan mangrove dapat mengganggu hasil panen tambak, selain itu masyarakt juga memanfaatkannya sebagai keperluan kayu bakar karena kondisi eekonomi  sehingga mengakibatkan penebangan pohon mangrove.
Tabel 1.2 Hasil Analisis Air Perairan Mangrove
No.
Parameter
Satuan
Air Pasang
Air Surut
Standar
1
2
3
1
2
3
1.
TSS
mg/L
12,57
12,18
12,90
11,91
10,98
12,07
80*
2.
Salinitas
34,5
33,6
34,7
32,4
19,4
32,3
5-32
3.
DO
mg/L
8,8
8,6
8,5
7,8
7,5
7,7
>6
4.
BOD
mg/L
2,35
2,35
2,40
2,30
2,25
2,30
<6
5.
COD
mg/L
8,40
8,05
8,35
8,34
7,95
8,30
<11
6.
Fe
mg/L
0,02
0,02
0,02
0,04
0,03
0,03
0,01
7.
pH

8,01
8,00
8,01
8,01
8,03
8,03
6,5-8,5
Sumber: Anugra dkk, 2014
Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa perairan kawasan mangrove di Desa Malakosa relative baik atau belum tercemar. Hanya saja nilai salinitas yang berada diatas standard an nilai besi yang melebihi standar disemua titik pengamatan. Rata-rata tinggi mangrove di Malakosa dengan salinitas 33‰-35‰ yang memiliki tinggi hanya mencapai 9 m.
       Penulis dalam penelitian ini berasal dari Jurusan Kehutanan Universitas Tadulako yang menurut analisa saya, dengan melihat latar belakang pendidikan penulis berasal tersebut mempunyai kualifikasi yang cukup dibidang yang diteliti. Karena adanya sinkronikasi antara ilmu yang dimiliki dengan apa yang diteliti.
       Sistematika penulisan telah tersusun dengan baik dan jelas mulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka, metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, saran dan daftar pustaka. Dari judul penelitian sendiri penulis membuatnya cukup jelas dan cukup mencakup seluruh bahasan yang telah dipaparkan dan cukup akurat.
       Pada bagian abstrak menurut saya abstrak yang diberikan pada jurnal ini dengan berbahasa inggris, ada baiknya untuk menambahkan Bahasa Indonesia juga agar memudahkan pembaca yang kurang dalam menerjemahkan Bahasa inggris.
       Pada bagian metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini sudah tepat sesuai dengan permasalahan yang diangkat. Dan juga metode pada penelitian ini selaras dengan analisis yang digunakan. Sehingga ouput yang didapatkan sesuai dengan apa yang diinginkan. Namun, pada proses pengambilan data kurang didetailkan jalur 1 terdapat didaerah mana maupun jalur yang lainnya.
       Pada bagian penulisan hasil pembahasan, penulis terlalu banyak mengutip dari penelitian sebelumnya ataupun dari literatur lain. Sebaiknya hasil pembahasan ditulis sesuai dengan apa yang telah didapatkan sesuai dengan apa yang dilakukan penulis dilapangan. Karena bisa saja ada perbedaan terhadap hasil yang terdahulu dengan yang dilakukan peneliti saat itu. Ada baiknya juga hasil penelitian yang dilakukan divisualisasikan berupa peta persebaran hutan mangrove yang rusak berat, sedang maupun rendah agar memudahkan pembaca.
       Pada bagian penutup sudah memuat kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian. Namun, disini penulis tidak memberikan saran maupun rekomendasi. Ada baiknya memberikan rekomendasi terkait masalah yang terjadi selama proses penelitian agar tidak terulang dipenelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anugra, Fuad, Husain Umar, Bau Toknok. 2014. “Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove
         Pantai di Desa Malakosa Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong”. Palu:
         Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako
Bengen, D.G. 2000. “Pengenalan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Pusat Kajian
         Sumberdaya Pesisir dan Lautan”. Bandung: Institut Pertanian Bogor
Heriyanto, N.M. dan Subiandono, E. 2012. “Komposisi dan Struktur Tegakan, Biomasa, dan
       Potensi Kandungan Karbon Hutan Mangrove di Taman Nasional Alas Purwo”. Bogor:
       Pusat penelitian dan pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi
Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) Tahun 2019



Komentar